Tragedi : 6 Tahun Belajar, Tak Berani Bicara Inggris
Soetiyastoko
Komunikasi, interaksi memerlukan bahasa sebagai pengantar pesan. Dalam interaksi antar bangsa di dunia, peranan bahasa inggris, begitu dominan.
Orang Thailand, bertemu dengan warga Indonesia. Mereka bicara dengan bahasa inggris. Demikian juga saat pelayan warung padang melayani orang jepang.
Kesadaran bahwa bahwa bahasa inggris itu berperan penting, tercermin dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Setiap anak indonesia yang mengenyam sekolah hingga lulus SLA, mereka mempelajarinya selama 6 tahun.
Bahkan sebagian Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Dasar yang dibina Swasta, juga mengajarkan bahasa inggris.
Mereka yang berkesempatan kuliah, juga mempelajari bahasa inggris setidaknya 2 semester hingga 4 semester. Walaupun tidak sedang kuliah di jurusan/bidang bahasa inggris.
Namun fakta dilapangan, meskipun banyak yang mempelajarinya hingga lebih dari 6 tahun, hasilnya, tak banyak yang berani dan bisa bercakap-cakap menggunakan bahasa inggris.
Kondisi di atas, menyuburkan tumbuhnya lembaga kursus bahasa inggris. Ini berarti pengeluaran ektra yang harus ditanggung orang tua.
Sayang sekali, hal ini tidak banyak dibahas dan dikupas.
Secara awam dan sederhana, dengan mudah, tiba pada kesimpulan, bahwa pendidikan formal kita dibidang bahasa inggris, selama ini gagal.
Berbeda dengan anak-anak balita, yang kebetulan ikut orangtua-nya tinggal di negara yang berbahasa inggris atau bahasa lainnya.
Dalam waktu yang relatif singkat, 1 atau 2 tahun, mampu dan fasih berkomunikasi dalam bahasa inggris atau bahasa asing lainnya.
Hal yang sama dialami anak-anak yang berpindah tempat tinggal di indonesia, ke daerah yang berbeda bahasa lokalnya. Mereka dengan cepat mampu bercakap-cakap bahasa daerah lain.
Lalu masalahnya di mana ?
Dalam dua contoh di atas, ada masalah mendasar yang membedakan.
Berbeda antara meniru percakapan, dengan dampak belajar grammer – tata bahasa. Praktek langsung beda dengan mempelajari teori.
Di sekolah-sekolah, ditekankan penguasaan tata bahasa. Sedangkan para balita di atas, langsung menggunakan bahasa, dengan meniru percakapan orang dewasa.
Pada pelajaran tata bahasa inggris di sekolah, tertangkap kesan rumit dan sulit. Apalagi bila diperberat dengan (maaf) guru yang tak mahir cara mengajarkannya.
Maka dari ketidak pahaman grammer, timbulah rasa malu dan takut salah, bertata bahasa inggris.
Rasa takut malu salah bicara ini, berefek traumatis yang berkepanjangan.
Tertanamlah keyakinan keliru, di bawah sadar para pembelajarnya, bahwa : “bahasa inggris, sulit dipelajari” . Tidak percaya diri menggunakannya.
Di Bali, tepatnya di lokasi-lokasi wisata, sebut saja Sanur, Kuta, Tanah Lot, Ubud. Banyak warga setempat yang mampu berkomunikasi dengan bahasa inggris.
Jangan didengar tata bahasanya atau diukur dengan standar grammer yang diajarkan disekolah.
Mereka tidak terbata-bata dalam bercakap-cakap, bahkan mereka mampu bersenda gurau bercengkrama dalam bahasa inggris. Nyaris tanpa kesulitan.
Mereka tidak takut dinilai grammer-nya, mereka juga tidak takut salah ucapkan kata. Mereka tidak merasa malu bahasa inggris-nya beraksen bahasa setempat.
Hal yang sama juga terjadi di berbagai destinasi wisata Indonesia lainnya.
Beberapa orang yang sempat penulis temui di lokasi wisata, menuturkan bahwa cara belajarnya sederhana. Hanya meniru dan menghafalkan percakapan.
Sebagian diantaranya, memanfaatkan buku Percakapan Bahasa Inggris, conversation. Tentang grammer, lama-lama bisa sendiri. Meskipun tak sebaik yang diminta guru bahasa inggris di sekolah.
Pertanyaannya, sudah saatnya-kah kita mengubah cara belajar “bahasa inggris” ?
Hentikan trauma bahasa inggris akibat njlimet-nya belajar grammer.
Ubah jadi “spontanitas” berbahasa, dengan mengedepankan hafal percakapan dan perbendaharaan kata. Serta kemampuan mendengar ucapan inggris. Sedangkan grammer, bisa dibenahi kemudian.
Saatnya 6 tahun belajar pola lama bahasa inggris, kita sudahi sia-sia nya, karena hasilnya banyak yang makin takut berbahasa inggris.
Sekali lagi, berbeda kecepatan antara meniru percakapan, dengan belajar grammer. Dalam memampukan seseorang berkomunikasi dalam bahasa lain, termasuk bahasa inggris.
Kenali kalimat dan maknanya, tirukan pengucapannya. Biasakan mendengarkan. Hafalkan. Gunakan dalam percakapan.
Belajar bahasa inggris jangan ditakut-takuti “salah bergrammer”.
Jika pun salah grammer, maklumi saja. Pertama, bukan bahasa kita. Kedua, kita sedang belajar. Lama-lama pasti bisa benar, seperti naik sepeda. Akhirnya, mudah. Meskipun pernah terjatuh dan lecet-lecet
Pagedangan, Senin 18 April 2022
